Kondisi Klimatologi Desa Mojokerto
Kondisi klimatologi Desa Mojokerto diturunkan dari data sekunder skala meso dari Kecamatan Kedawung. Pendekatan ini memiliki landasan keruangan yang kuat (spatial justification) mengingat Desa Mojokerto terletak dalam radius proksimitas yang dekat (3 Km) dari pusat kecamatan dan berada pada hamparan topografi yang homogen (120 mdpl). Absennya fitur teoretis pemisah iklim mikro, dipadukan dengan keterbatasan stasiun pemantau cuaca di tingkat desa, menjadikan pemanfaatan data meso ini sebagai opsi proksi terbaik yang ilmiah, relevan, dan terukur untuk memproyeksikan kecenderungan iklim serta mitigasi bencana lokal di Desa Mojokerto.
- Tabel 1.1 Curah Hujan dan Hari Hujan Desa Mojokerto Tahun 2024
|
Bulan |
Rata-rata Curah Hujan |
Rata-rata Hari Hujan |
|
(mm) |
(hari) |
|
|
Januari |
73 |
14 |
|
Februari |
244 |
22 |
|
Maret |
386 |
19 |
|
April |
212 |
12 |
|
Mei |
142 |
5 |
|
Juni |
3 |
2 |
|
Juli |
1 |
1 |
|
Agustus |
0 |
0 |
|
September |
0 |
0 |
|
Oktober |
23 |
2 |
|
Nopember |
122 |
13 |
|
Desember |
136 |
12 |
|
sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sragen |
||
Berdasarkan data sekunder yang bersumber dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sragen pada table di atas, kondisi hidrometeorologi Desa Mojokerto secara umum menunjukkan fluktuasi musiman yang kontras antara musim hujan dan musim kemarau. Total akumulasi curah hujan di wilayah ini sepanjang tahun 2024 mencapai 1.342 mm dengan total 102 hari hujan.
1. Puncak Musim Hujan (Wet Season Peak)
Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret mencapai 386 mm dengan 19 hari hujan, diikuti oleh bulan Februari sebesar 244 mm yang sekaligus memegang rekor intensitas frekuensi tertinggi yaitu 22 hari hujan dalam sebulan. Tingginya angka ini mengindikasikan bahwa pada periode Februari–Maret, wilayah Desa Mojokerto berada pada status jenuh air (saturated soil condition).
2. Puncak Musim Kemarau (Dry Season Peak)
Periode kering yang ekstrem terjadi pada bulan Agustus dan September dengan catatan curah hujan 0 mm dan 0 hari hujan. Bulan Juni dan Juli juga mencatat curah hujan yang sangat minim (masing-masing hanya 3 mm dan 1 mm). Hal ini menunjukkan adanya musim kemarau tegas selama kurang lebih 4 bulan (Juni–September).
Secara metodologis, jika ditinjau dari klasifikasi agroklimat Oldeman (yang sering digunakan planner untuk zonasi pertanian):
- Bulan Basah (curah hujan > 200 mm)
Berlangsung selama 3 bulan (Februari, Maret, April).
- Bulan Lembap (curah hujan 100–200 mm)
Berlangsung selama 4 bulan (Januari, Mei, November, Desember).
- Bulan Kering (curah hujan < 100 mm)
Berlangsung selama 5 bulan (Juni, Juli, Agustus, September, Oktober).
Wilayah dengan karakteristik 3 Bulan Basah dan 5 Bulan Kering ini mengindikasikan wilayah agrokluster yang membutuhkan manajemen air (irigasi) yang ketat karena periode keringnya lebih panjang daripada periode basahnya.
B. REKOMENDASI KEBIJAKAN SEKTORAL DAN INTERVENSI PENATAAN RUANG
1. Perencanaan Sektor Pertanian & Ketahanan Pangan
Mengingat adanya masa kekosongan hujan total di bulan Agustus–September, pola tanam (cropping pattern) komoditas pertanian di Desa Mojokerto harus disesuaikan secara linier.
a. Masa Tanam I (November - Februari)
Optimal untuk budidaya Padi Sawah karena pasokan air dari curah hujan mulai stabil dan melimpah.
b. Masa Tanam II (Maret - Mei)
Transisi ke tanaman Palawija atau varietas padi berumur pendek yang hemat air, memanfaatkan sisa kelembapan tanah pasca-puncak hujan di bulan Maret.
c. Masa Tanam III (Juni - Oktober)
Lahan disarankan untuk beralih sepenuhnya ke komoditas non-padi (hortikultura kering/bera) guna menghindari gagal panen akibat water deficit.
2. Manajemen Infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) & Drainase
a. Mitigasi Banjir Luapan (Februari–Maret)
Tingginya curah hujan di bulan Maret () menuntut kapasitas sistem drainase makro desa harus mampu mengalirkan limpasan permukaan (surface runoff) dengan andal. Diperlukan normalisasi saluran pembuang agar tidak terjadi genangan pada kawasan permukiman dan koridor perdagangan Jl. Sragen - Batu Jamus.
b. Mitigasi Kekeringan & Krisis Air (Juni–September)
Kebijakan struktur ruang desa wajib mengarahkan pembangunan Embung Desa, sumur resapan, atau Long Storage di sekitar kawasan pertanian. Infrastruktur ini berfungsi sebagai tabungan air (water harvesting) pada saat bulan basah untuk disuplai pada saat bulan kering (Agustus–September).
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin